Wednesday, March 30, 2011

gak bisa tidur.

"Maaf banget Bu, iya, saya ga bisa. Maaf, Bu. Oke.. oke.. maaf sekali lagi, Bu. Terimakasih, Bu. Selamat si..."

Burhan hanya dapat memandangi telpon genggamnya dengan pasrah dari kursi supir ketika seseorang diseberang sana menutup pembicaraan dengan kasar. Selain istri dan anaknya di desa, bos dan pegawai perusahaan tempat ia bekerja, dan beberapa teman dekat, telpon genggam itu hanya diisi nomor para pelanggan taksinya. Dan untuk kesekian kalinya dalam sebulan ini, ia menolak menjemput langganan yang biasanya jadi kesayangannya: Ibu Utari. Padahal Ibu Utari adalah pelanggan utamanya, yang paling banyak memberikan tip setiap kali diantar ke sana kemari oleh Burhan.

Apa yang kau lakukan, Burhan? pikirnya pada diri sendiri. Dalam telpon barusan, Ibu Utari sudah kehilangan kesabarannya dan memilih mencari supir taksi langganan yang baru.

Burhan memasukkan telpon genggamnya ke saku, menggantikan genggaman tangannya dengan sebatang rokok tanpa filter. Baru saja ia hendak menyalakan api dari pemantiknya, gerakannya lalu terhenti. Ia membatalkan niatnya merokok.

Dia benci rokok, pikirnya lagi.

Lalu ia terdiam.

Kenapa aku harus peduli?

Burhan siap-siap hendak merokok lagi.

Lalu berhenti lagi.

Sambil mendesah pasrah bercampur kesal, kali ini ia memutuskan melempar rokok dan pemantiknya keluar kaca mobil entah kemana. Ia menggenggam stir mobil dinasnya. Pandangannya beralih ke foto keluarganya di bagian dashboard. Sebenarnya karyawan dilarang memasang foto keluarga di dalam mobil dinas, tapi hanya itu pengingatnya untuk tetap waras disaat seperti ini. Istrinya yang berpenampilan sederhana mengenakan pemerah bibir murahan, tersenyum bersama ketiga anaknya di dalam studio foto. Mereka selalu menunggunya dengan setia di kampung kelahirannya. Termasuk juga menunggu uang hasil gajian yang dikirim Burhan setiap bulannya.

Pandangan Burhan kini diteruskan, menuju ke arah penunjuk waktu digital di sebelah foto keluarganya. Angka dibagian detiknya terus berlalu dan tanpa sadar jari-jari Burhan ikut menjentik sesuai pergantian detik itu.

"Aaahh.." Burhan menghempaskan badannya ke sandaran kursi sambil menggenggam rambut dengan kedua tangannya hingga berantakan. "Kau gila, Burhan." Tangannya turun ke wajahnya lalu ke bawah. Ia memandang kaca di dekatnya. Matanya yang sembab karena kurang tidur terpantul di kaca, menandakan tiap malam yang ia lewati dengan dihantui pikirannya sendiri. "Betul-betul gila."

Lalu dari balik kaca depan mobil, dari tempatnya parkir, dilihatnya lelaki itu. Pria yang muncul keluar dari pintu lobi gedung  perkantoran modern. Selalu. Setiap jam yang sama seperti ini setiap hari.

Burhan terkaget dan langsung membenarkan penampilannya. Memperbaiki rambutnya dan memastikan mulutnya tidak bau, lalu memasukkan foto istri dan anaknya ke dalam tempat penyimpanan di dashboard. Mengunci mereka rapat-rapat supaya tidak melihat.

Ia segera menjalankan taksinya menuju tempat lelaki itu berdiri menunggu taksi. Selalu. Setiap jam yang sama seperti ini setiap hari selama sebulan ini.

Burhan menghentikan taksinya di sebelah lelaki itu. Ia sangat tegang. Seolah semua gerakannya kaku dan sendinya terkunci rapat. Burhan membenarkan nafasnya yang tersengal tanpa sebab sebelum akhirnya keluar dan membukakan pintu taksi. Sambil tersenyum ramah Burhan menoleh ke arah lelaki pelanggan barunya. Seorang eksekutif muda tampan, mengenakan setelan jas rapi. Kulitnya coklat terawat dan penampilannya klimis. Ada kesan tangguh dan sedikit arogan pada pembawaannya.

"Selamat siang Pak." Burhan membukakan pintu taksi.

"Siang." Pria itu tersenyum sesaat lalu masuk ke dalam tempat duduk penumpang. Senyum sesaat yang mampu memerahkan pipi Burhan dan membuatnya susah tidur dan makan setiap malam..

Burhan menutup pintu taksinya, lalu segera menuju bagian supir.

"Ke Kemang ya, Pak."

Butuh waktu beberapa saat sebelum Burhan dengan malu bisa menjawab, "I..iya, Pak."

Burhan segera melajukan taksinya. Istri dan anaknya bisa menunggu di kampung saja nanti. Ibu Utari bisa mencari supir langganan yang baru sesuka hati. Tapi dia tak akan menukarkan apapun untuk ini. Sejak sebulan yang lalu. Selalu. Setiap jam yang sama seperti ini setiap hari.

5 comments:

  1. oh jadi? ah .. tiga kali baca aku baru ngeh .. keren miss anggun .. ;)

    ReplyDelete
  2. tank dari kayu mas hehe x)

    ReplyDelete
  3. sudut pandang yang menarik :)

    ReplyDelete