"Film is incredibly democratic and accessible, it's probably the best option if you want to change the world, not just re-decorate it."
- Banksy
Rudi memandangi kata mutiara diatas, yang diambil dari kata-kata seniman Inggris, di layar monitornya yang ia lihat dari sebuah blog entah siapa. Apabila presiden adalah sutradara, pikirnya, mungkinkah kita ini adalah pemeran demokrasi yang mengiba tanpa harap dan celah? Membayar pajak sambil menghina dan melihat sekitar dengan nelangsa akibat ketidakpuasan? Sebenarnya apakah yang memuaskan kita?
Rudi menyeruput kopinya. Pahit. Apabila kopi adalah sutradara, pikirnya lagi, mungkin saja bubuknya adalah bayi-bayi yang terlahir dari biji-biji yang digelinding dan diproses, lalu bercampur dengan kehidupan gula dan creamer, digerayangi seratus derajat air panas namun tetap mengeluarkan aroma kuat kehidupan yang menggoda. Kalau begitu siapa manusia? apakah ia yang menghirupnya hingga tandas adalah Sang Kiamat? Ataukah yang tersenyum sambil merasakan nikmatnya perpaduan kecut dan gairahnya dunia? Lalu apa peran Tuhan dalam kopi selain menciptakan-Nya?
Mungkin justru itulah peran Tuhan, pikir Rudi. Tuhan yang menciptakan untuk kita yang rasa.
Ia tertawa sendiri pada pikiran ngalur ngidulnya di malam hari. Mungkin apabila film adalah demokrasinya, kita penonton adalah umpan pikirannya. Yang dirasuki dari celah-celah otaknya. Dibukakan dengan visual dan suara, lalu dibiarkan semua katanya merasuki rasa. Pelan-pelan dibiarkannya kita terhanyut, mengangguk-angguk setuju sembari senang membawa kenangannya pulang. Kemudian sadar tidak sadar menggerakkannya di lingkungan luar. Atau sebaliknya, kita dapat menggeleng kecewa dan marah dan menghinanya. Apapun, ia tak akan berusaha bicara membantah.
Mungkin, pikir Rudi. Mungkin.
0 comments:
Post a Comment