Tuesday, March 13, 2012

on family

Sofa rotan berjok hijau buluk, suara hamster lagi lari-lari sendiri di kandangnya, suara ibu sedang berdoa, suara ponakan yang tidur sambil ngigau, ruang tengah yang minim penerangan, pempek asli palembang, laptop, internet hotspot yang bisa bikin internet kantor gue melipir malu karena banyak aturannya.

Ahhh, it's good to be home.

Udah beberapa minggu ini pulang ke rumah semua udah gelap, orang-orang rumah udah pada tidur. Trus bangun pagi-pagi semua juga udah pada pergi. Bahkan akhir minggu gue bukannya di rumah malah ke Bandung. Emang sih buat nyicil seserahan (plus nemenin tunangan 'manja' yang minta di-asisten-in pas lagi latihan musik dan leyeh-leyeh), tapi... apa ya..

Gue jadi inget, pas dulu, duluuuuu sekali, waktu hewan-hewan bisa bicara bahasa manusia (edan, kesannya fabel).. hehe.. dulu pas masih abegeh, saya pengeeeennn banget keluar dari rumah. Berhubung anak perempuan pertama yang rebelnya minta ampun, ayah dan ibu saya kewalahan menahan setiap keinginan saya. Rasanya pengen pergi, pengen menjelajah, melihat keluar, gak cuma di kota kecil saya di Selatan Sumatera. Mungkin emang gitu ya orang udik yang haus suasana kota, sampai kota liat dufan aja nganga.. hahaha gak gitu juga sih. Tapi dulu rasanya hasrat ingin pergi jauh dari rumah tinggi banget. Keluar rumah itu berarti kebebasan tak terkira.

Nah sekarang, setelah sekitar delapan tahun 'terbebas' dari rumah dan kembali lagi, yang ada gue tuh malah jadi anak yang homie banget menurut gue. Yah, homie dibandingin waktu gue di Bandung dulu lah seenggaknya. Gue seneng banget main sama ponakan gue, leyeh-leyeh, diomelin nyokap, godain adik,  ngabisin waktu, ngobrol, keliling komplek.. hal-hal yang dulu sempet bosen banget gue jalanin.

Bahkan gue sempat merasa sedih. Jakarta, jelas beda dari Bandung dan Palembang. Di Bandung dan Palembang, sesibuk apapun kita, maksimal 30 menit semua orang sudah bisa sampai rumah. Kumpul dengan keluarga, menikmati jam-jam santai. Recharge tubuh habis-habisan, sebelum besoknya beraktivitas lagi. Lah, di Jakarta sih boro-boro. IMHO selama belum sampai setahun tinggal di sini, kalo lo di Jakarta, life will eat you. Selain karena kota ini udah terlalu luas, jarak-jarak terlalu jauh, kerjaan, kesibukan, jalanan.. semuanya makan waktu. Sampai-sampai punya waktu sendiri atau untuk keluarga pun harus dipaksa-paksa. Lo mesti milih, waktu untuk lo sendiri, untuk temen-temen lo, atau untuk keluarga. Susah ngebarenginnya. Belum lagi kalau rumah jauh dari tempat kerja, seperti saya. Makanya gak aneh kalau saya sering kangen orang rumah. Soalnya tempatnya ada, orang-orangnya yang susah dicari. Padahal saya ke sini kan tadinya berniat untuk gak pergi jauh lagi... Tapi yaaahh saat ini saya sedang berusaha beradaptasi dikit-dikit sih biarpun dalam hati berharap gak bener-bener jadi orang-orang Jakarta yang nganggep hal-hal 'salah' soal waktu itu hal yang biasa.

Di sisi lain saya ngerti banget sama temen-temen yang masih pengen pergi. Jauh dari orang tua, akhir minggu kelayapan gak dirumah. Pengennya hura-hura setiap saat, sebisa mungkin cari cara ngeluapin energi yang gak terbatas keluar rumah. Saya pernah di posisi yang sama. Bukannya saya sekarang gak suka hepi-hepi, tapi alhamdulillah saya udah tua juga ternyata cukup puas dengan masa-masa bebas saya jadi gak ngoyo banget kalo gak ada acara dan stay di rumah.

Bahkan, saya sekarang ini sedang senang sekali. Senang karena saya di rumah ini. Dengerin hal-hal sederhana yang saya rindukan di sini. Biarpun sudah gelap, semuanya sudah pada tidur lelap. saya pengen puas-puasin di rumah, sebelum nanti saya pergi untuk bikin 'rumah' baru saya sendiri bersama suami saya hehe.

Jadi, saran saya untuk para pembaca dan pirsawan yang membaca blog ini dan masih gila bebas lepas: nikmatin kebebasan lo dengan bertanggung jawab. Supaya nanti lo bisa ngerasain saat-saat seperti saat saya sekarang ini. Serene. Balance. Happy. Content. Fulfilled.

 Kan seperti katanya siapa tuh yang itu tuh.. katanya, home is where the heart is. Arti harfiahnya: rumah adalah tempat hati. Emang agak bego sih, soalnya jelas-jelas hati itu ada di jantung. Tapi ya lebih kurang gitu deh.. :p

Udah ah, ngantuk. garing. Grok.

Tuesday, March 6, 2012

starting the private stuff

Testing.
Udah lama gak update blog. Lamaaaa banget. Ternyata menulis itu nggak butuh suasana lingkungan yang mendukung, tapi suasana diri yang mendukung. Sebenernya ini tulisan pribadi dikin juga gara-gara di dorong oleh si Sentot Andiantot yang karena sesuatu dan lain hal alamat doski gak akan gue beberkan (tapi bisa di cari di google hehehe).

Tadinya sih mau bikin blog baru yang kheuseus soal kehidupan pribadi, beda dari blog ini yang sebenarnya dibuat untuk latihan nulis fiksi antah berantah. Tapi setelah dipikir, rempong juga yes ngurus dua blog, toh setelah kerja sebagian besar tulisan fiksi saya malah gak dipublish di blog melainkan di words document komputer saya. Jadi nanti saya atur labelnya aja deh, biar lebih gampang bedain yang mana yang tulisan fiksi mana yang tulisan pribadi.

Anyway,.. saya ga tau harus mulai dari mana... hmmm..

Mmmm, mungkin sebagai brief dulu aja kali ya.
Saat ini saya sedang sibuk dengan senangnya bersama kerjaan saya di kantor. Dibayar untuk menulis itu memang asik yah apalagi untuk menulis kreatif :)
Dan saya juga sedang sibuk dengan senangnya ngurusin persiapan pernikahan yang masih beberapa bulan lagi.

Oia, kalau saya menulis tulisan pribadi, kata teman-teman yang pernah baca tulisan pribadi saya, suka banyak hubungannya dengan bertanya kepada Tuhan atau mempertanyakan Tuhan dan agama. Jadi sebelum kalian membaca tulisan kehidupan pribadi saya nanti, maaf ya kalo jadi baca yang begitu-begituan. Bukan bermaksud SARA, tapi itu kan emang proses pencarian saya sendiri. Kalau shallow ataupun mellow juga maaf ya.. siapa suruh dibaca hehe.. seorang teman saya bilang supaya gak ikutan shallow dan mellow bisa datang ke Cry Free Day, biar bebas nangis hahaha.
 
Ya sudah, udah lumayan tuh nulisnya lumayan panjang. Semoga Tuhan menunjukkan jalan yang baik dan lancar untuk saya dan orang sekitar saya ke depannya, Amin.

Mmmmm, yaudah segitu dulu deh hehehe garing yah. bodo ah. lalalala..

Ciao.
Anggun.

Friday, June 3, 2011

50 reasons not to date a graphic designer

Bukannya menulis malah keliling kesana kemari. Akhirnya menemukan ini. Entah kenapa biarpun bukan bekerja di bidangnya lagi, tapi masih banyak yang bisa di highlight sebagai representasi diri sendiri. Mungkin weirdo memang bukan milik satu profesi (tsaaaahhhh taik banget bahasa gue). Kalimat yang ditebelin berarti masih melekat sampai hari ini, kalimat yang dimiringin berarti pernah melekat lalala. Selebihnya buat ketawa doang. Sebenernya semuanya juga buat ketawa doang. Lucu aja.

1. They are very weird people.
2. There are billions of them in the world, like colors on the screen of your computer.
3. They will analyse conversations in layers.
4. You will spend the day assembling furniture from IKEA.
5. They drink and eat all kinds of weird shit just because they like the packaging.
6. They hate each other.
7. You’ll come out the last out of the movies because you have to see the full list of credits.
8. They cant change a light bulb or without making a sketch.
9. They fuck up all the tables with their cutters.
10. They rather study the paisley pattern on your outfit than listen to what you have to say.
11. They will fill your house with magazines and whatever is out there that has drawings.
12. You never know if it is really an original or a copy.
13. They make collages with your photos.
14. They do not know how to add and subtract, they just understand letters.
15. They idolize people who nobody knows and speak of them as if they were his colleagues.
16. They take pictures almost daily and all are cut in weird shapes.
17. They ask your opinion about everything but  they do whatever they want.
18. Everything is left justified, right or center unless they arrive late.
19. They hate Comic Sans with the same passion they love Helvetica.
20. They use iPhone for everything, because everyone has one.
21. You can not decorate the house without consulting them.
22. They steal street signs.
23. Always carry their hands painted with something.
24. They buy dolls unfinished for them to paint.
25. Everything becomes something other than what it really is: cards as tickets, cards as …
26. When arguing, you will be nicknamed like the OSX spinning wheel (not affectionately)
27. Do not know how to dress without consulting the Pantone book.
28. They hate Excel.
29. They read comics.
30. They want to save the world only with a poster.
31. You will spend the day brainstorming.
32. On vacation they will take you to countries that you do not know exist and have no beach.
33. Museums are their second home.
34. They know more positions than the Kamasutra.
35. They can’t go to a restaurant without secretly critiquing the menu design.
36. They listen to music you have never heard of.
37. They can´t cook a normal dish, they always have to experiment with new ingredients.
38. They read rare books: stories of children, Semiotics …
39. When you are going to tell you something, everyone has read it in their facebook and twitter.
40. They have own iPods before you knew they existed.
41. The orgasm they remember is when they heard that Adobe was acquiring Macromedia.
42. They have their own shops just for them and there are the most expensive in the city.
43. They want to spend all the money in the Apple Store.
44. You will never understand their gifts.
45. They see ordinary objects and laugh.
46. You wake up in the middle of the night hearim them screaming “When is the deadline?”

47. They see CMYK and RGB like Neo sees the Matrix.
48. They dream of the day nobody will make a single change to their designs.
49. They rather pay for a font than for a special birthday gift.
50. They are always sleepy because they work 24/7.  

diambil dari sini dengan judul yang sama.

Tuesday, April 26, 2011

terlalu banyak waktu terlewat untuk menuliskan bahkan hanya satu kata.
tapi akhirnya baru saja diatas saya menulis sebuah kalimat tentang satu kata yang terlewat begitu saja.
akhirnya jadi dua kalimat.
lalu tiga.
empat.
lima.

haha.

Wednesday, March 30, 2011

gak bisa tidur.

"Maaf banget Bu, iya, saya ga bisa. Maaf, Bu. Oke.. oke.. maaf sekali lagi, Bu. Terimakasih, Bu. Selamat si..."

Burhan hanya dapat memandangi telpon genggamnya dengan pasrah dari kursi supir ketika seseorang diseberang sana menutup pembicaraan dengan kasar. Selain istri dan anaknya di desa, bos dan pegawai perusahaan tempat ia bekerja, dan beberapa teman dekat, telpon genggam itu hanya diisi nomor para pelanggan taksinya. Dan untuk kesekian kalinya dalam sebulan ini, ia menolak menjemput langganan yang biasanya jadi kesayangannya: Ibu Utari. Padahal Ibu Utari adalah pelanggan utamanya, yang paling banyak memberikan tip setiap kali diantar ke sana kemari oleh Burhan.

Apa yang kau lakukan, Burhan? pikirnya pada diri sendiri. Dalam telpon barusan, Ibu Utari sudah kehilangan kesabarannya dan memilih mencari supir taksi langganan yang baru.

Burhan memasukkan telpon genggamnya ke saku, menggantikan genggaman tangannya dengan sebatang rokok tanpa filter. Baru saja ia hendak menyalakan api dari pemantiknya, gerakannya lalu terhenti. Ia membatalkan niatnya merokok.

Dia benci rokok, pikirnya lagi.

Lalu ia terdiam.

Kenapa aku harus peduli?

Burhan siap-siap hendak merokok lagi.

Lalu berhenti lagi.

Sambil mendesah pasrah bercampur kesal, kali ini ia memutuskan melempar rokok dan pemantiknya keluar kaca mobil entah kemana. Ia menggenggam stir mobil dinasnya. Pandangannya beralih ke foto keluarganya di bagian dashboard. Sebenarnya karyawan dilarang memasang foto keluarga di dalam mobil dinas, tapi hanya itu pengingatnya untuk tetap waras disaat seperti ini. Istrinya yang berpenampilan sederhana mengenakan pemerah bibir murahan, tersenyum bersama ketiga anaknya di dalam studio foto. Mereka selalu menunggunya dengan setia di kampung kelahirannya. Termasuk juga menunggu uang hasil gajian yang dikirim Burhan setiap bulannya.

Pandangan Burhan kini diteruskan, menuju ke arah penunjuk waktu digital di sebelah foto keluarganya. Angka dibagian detiknya terus berlalu dan tanpa sadar jari-jari Burhan ikut menjentik sesuai pergantian detik itu.

"Aaahh.." Burhan menghempaskan badannya ke sandaran kursi sambil menggenggam rambut dengan kedua tangannya hingga berantakan. "Kau gila, Burhan." Tangannya turun ke wajahnya lalu ke bawah. Ia memandang kaca di dekatnya. Matanya yang sembab karena kurang tidur terpantul di kaca, menandakan tiap malam yang ia lewati dengan dihantui pikirannya sendiri. "Betul-betul gila."

Lalu dari balik kaca depan mobil, dari tempatnya parkir, dilihatnya lelaki itu. Pria yang muncul keluar dari pintu lobi gedung  perkantoran modern. Selalu. Setiap jam yang sama seperti ini setiap hari.

Burhan terkaget dan langsung membenarkan penampilannya. Memperbaiki rambutnya dan memastikan mulutnya tidak bau, lalu memasukkan foto istri dan anaknya ke dalam tempat penyimpanan di dashboard. Mengunci mereka rapat-rapat supaya tidak melihat.

Ia segera menjalankan taksinya menuju tempat lelaki itu berdiri menunggu taksi. Selalu. Setiap jam yang sama seperti ini setiap hari selama sebulan ini.

Burhan menghentikan taksinya di sebelah lelaki itu. Ia sangat tegang. Seolah semua gerakannya kaku dan sendinya terkunci rapat. Burhan membenarkan nafasnya yang tersengal tanpa sebab sebelum akhirnya keluar dan membukakan pintu taksi. Sambil tersenyum ramah Burhan menoleh ke arah lelaki pelanggan barunya. Seorang eksekutif muda tampan, mengenakan setelan jas rapi. Kulitnya coklat terawat dan penampilannya klimis. Ada kesan tangguh dan sedikit arogan pada pembawaannya.

"Selamat siang Pak." Burhan membukakan pintu taksi.

"Siang." Pria itu tersenyum sesaat lalu masuk ke dalam tempat duduk penumpang. Senyum sesaat yang mampu memerahkan pipi Burhan dan membuatnya susah tidur dan makan setiap malam..

Burhan menutup pintu taksinya, lalu segera menuju bagian supir.

"Ke Kemang ya, Pak."

Butuh waktu beberapa saat sebelum Burhan dengan malu bisa menjawab, "I..iya, Pak."

Burhan segera melajukan taksinya. Istri dan anaknya bisa menunggu di kampung saja nanti. Ibu Utari bisa mencari supir langganan yang baru sesuka hati. Tapi dia tak akan menukarkan apapun untuk ini. Sejak sebulan yang lalu. Selalu. Setiap jam yang sama seperti ini setiap hari.